15 Tarian Yogyakarta: Ada Tari Serimpi dan Bedhaya yang khas Njawani!

tari yogyakarta

Balaibahasajateng.web.id, Tari Yogyakarta – Sebagai salah satu pusat kebudayaan di Indonesia, Yogyakarta hadir sebagai suatu wilayah yang kaya kesenian. Keberadaan Keraton Yogyakarta yang tetap lestari, turut menghadirkan berbagai kekayaan budaya adiluhung bernilai seni tinggi, khususnya seni tari.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta atau disebut juga Gaya Mataraman telah berkembang seiring perjalanan dan telah ada sejak Keraton Yogyakarta berdiri. Umumnya, Joged Mataraman atau Tarian Yogyakarta sangat sarat dengan nilai historis, sosiologis, politis serta muatan-muatan pendidikan.

Secara umum, beksan Mataraman memiliki aturan baku yang khas. Dalam tataran teknis, umum dikenal empat kriteria seperti sawijigregetsengguh dan mingkuh. Tentunya, untuk memahami makna filosofis secara utuh dan mendalam dibutuhkan proses atau tahapan dalam bentuk latihan terus-menerus.

Sejarah Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Perihal sejarah Tari Klasik Gaya Yogyakarta, bisa dimulai dari Perjanjian Giyanti dan Jatisari. Perjanjian Giyanti yang terjadi pada tahun 1755 menjadi saksi dimana Keraton Mataram terbagi menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Selanjutnya, dilakukan lagi Perjanjian Jatisari pada tahun 1756. Dalam perjanjian kedua ini telah ditentukan masa depan masing-masing kerajaan. Terlebih dalam hal bagaimana meneruskan warisan budaya Mataram.

Secara singkat, Kasunanan Surakarta lebih cenderung untuk mengembangkan apa yang sudah ada. Sementara itu, Kasultanan Yogyakarta memilih melestarikan tradisi yang ada, khususnya yang berkaiatan dengan tarian klasik.

Sejak saat itu, dari Keraton Yogyakarta lahirlah beberapa karya tari monumental seperti Lawung dan Bedhaya khas Yogyakarta. Tersebutlah istilah Tari Klasik Gaya Yogyakarta, sebagaimana juga dikenal Tari Klasik Gaya Surakarta.

Selanjutnya, perkembangan Tari Klasik Gaya Yogyakarta mencapai puncak kejayaan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana VIII. Saat itu, Wayang Wong tampil sebagai sebuah karya monumental yang sekaligus menjadi simbol legitimasi raja.

Dikatakan juga, kesenian Wayang Wong telah menginspirasi lahirnya beksan (tari) lepas yang mengambil ide dari tokoh kesenian tersebut. Melalui kesenian Wayang Wong, terciptalah berbagai bentuk koreografi, baik tari tunggal dan pasangan.

Daftar Tari Yogyakarta

  1. Tari Bedhaya Sumreg
  2. Beksan Lawung Ageng
  3. Tari Serimpi Yogyakarta
  4. Tari Bedhaya Semang
  5. Tari Golek Ayun-Ayun
  6. Bedhaya Bedhah Madiun
  7. Tari Golek Menak
  8. Tari Golek Kenyo Tinembe
  9. Tari Klana Raja
  10. Tari Klana Alus
  11. Tari Golek Pamularsih
  12. Tari Bedhaya Sabda Aji
  13. Bedhaya Sang Amurwabhumi
  14. Tari Srikandi Suradewati
  15. Tari Bedhaya Luluh

Tari Bedhaya Sumreg

Bedhaya Sumreg adalah tarian pusaka karya dari Susuhunan Paku Buwono I. Keterangan tersebut berasal dari manuskrip yang ditulis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855 – 1877). Tarian ini merupakan hasil upaya mutrani atau menduplikasi Bedhaya Ketawang karya Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. 

Beksan Lawung Ageng

Beksan Lawung Ageng merupakan salah satu tarian pusaka di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tari yang diciptakan Sultan Hamengku Buwono I ini dianggap sebagai seni tari unggulan setelah Bedhaya. Tercipta sebagai simbol atau idiom budaya untuk mendukung legitimasi kekuasaan raja. Selain juga dimaksudkan sebagai simbolisasi latihan perang. 

Tari Serimpi Yogyakarta

Tari Serimpi adalah tarian tradisional Jawa yang populer di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Identik dengan kelemah-lembutan, kesopanan, gambaran kehalusan budi. Sejak zaman kuno, Serimpi telah memiliki kedudukan istimewa di keraton-keraton Jawa. Tari ini tidak dapat disamakan dengan tari pentas lain karena bersifat sakral. 

Baca selengkapnya Tari Serimpi

Tari Bedhaya Semang

Bedhaya Semang merupakan salah satu tarian pusaka. Tarian klasik hasil karya Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1759. Dalam pelembagaannya, Bedhaya Semang merupakan tarian sakral yang sangat tua. Tari ini adalah reaktualisasi hubungan suci nan mistis antara Sultan Agung dari Mataram dengan Ratu Kidul sebagai penguasa laut selatan.

Tari Golek Ayun-Ayun

Tari yang namanya diambil dari gending Landrang Ayun-ayun ini merupakan varian dari tari golek Yogyakarta. Tari ini menggambarkan kegemaran berdandan seorang gadis yang beranjak dewasa. Diciptakan pada tahun 1976 oleh KRT. Sasmintadipura. Termasuk beksan golek paling terkenal yang dijadikan materi ajar di Kridha Mardawa Keraton Yogyakarta. 

Bedhaya Bedhah Madiun

Tarian klasik gaya Yogyakarta selanjutnya adalah Tari Bedhaya Bedhah Madiun. Tercipta di masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII sekitar tahun 1921. Tari ini merupakan penggambaran dari peperangan yang pernah terjadi antara Mataram dan Madiun. Sebuah peperangan yang lebih dikenal dengan nama Tudhung Madiun atau bedhah-nya Madiun. Baca selengkapnya…

Tari Golek Menak

Tari Golek Menak adalah jenis Tari Klasik Yogyakarta yang terinspirasi Wayang Golek Menak. Diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX setelah melihat pertunjukan Wayang Golek Menak pada tahun 1941. Pertama kali dipentaskan dalam peringatan ulang tahun Sultan tahun 1943 yang bertempat di Tratag Bangsal Kencana Keraton Yogyakarta.

Tari Golek Kenyo Tinembe

Tari Golek Kenyo Tinembe pertama kali disusun pada tahun 1976 oleh KRT. Sasmintadipura. Salah satu bentuk Tari Tunggal Putri yang diperuntukkan sebagai bahan ajar. Cenderung mudah dipahami bagi pemula yang ingin belajar tari Golek. Hadir dengan koreografi dan varian gerak yang tidak rumit dengan pola lantai simetris yang sederhana. Baca selengkapnya…

Tari Klana Raja

Klana Raja disusun oleh R. Soenartomo Tjondroradono. Tercipta pada tahun 1976 terinspirasi dari adegan raja yang sedang jatuh cinta kepada seorang putri dalam lakon Wayang Wong. Perihal namanya, ada yang mengatakan bahwa tari ini merupakan gambaran figur raja yang merupakan manifestasi penguasaan Mayapada dan alam astral yang hadir. Baca selengkapnya…

Tari Klana Alus

Klana Alus merupakan salah satu jenis tari tunggal putra. Tari ini merupakan hasil karya dari seorang penari dan guru tari bernama R. Soenartomo Tjondroradono (K.R.T Candraradana). Ditarikan dengan karakter dan gerak tari yang halus. Ciri khas dari gerakan tari ini adalah gerakan Ngana atau Kiprahan yang diungkapkan melalui gerak Muryani Busana. Baca selengkapnya…

Tari Golek Pamularsih

Tari Golek Pamularsih merupakan buah karya Gusti Bendoro Raden Ayu Yudonegoro. Salah satu jenis tarian golek yang menggambarkan tingkah laku gadis remaja yang sedang mekar-mekarnya. Masa-masa ketika ia gemar bersolek dan bergaya dengan kenes dan kemayunya. Berusaha terlihat cantik demi mendapat perhatian dari lelaki pujaan. Baca selengkapnya

Tari Bedhaya Sabda Aji

Diciptakan R. Ay. Sri Kadarjati pada tahun 2007 dan disebut sebagai Bedhaya Golek Menak yang pertama. Seperti diisyaratkan oleh namanya, “Sabda Aji” kurang lebih bermakna perintah raja atau titah raja. Raja yang dimaksud adalah Sultan HB IX yang menghendaki karya tarinya yang terinsipirasi dari Wayang Golek Menak untuk dikembangkan. Baca selengkapnya...

Bedhaya Sang Amurwabhumi

Bedhaya Sang Amurwabhumi dipentaskan pertama di Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta saat pengangkatan dan penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1990). Diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai legitimasi Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada swargi Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Baca selengkapnya…

Tari Srikandi Suradewati

Tari Srikandi Suradewati merupakan jenis tari berpasangan yang mengusung cerita yang diambil dari Serat Mahabharata. Tarian ini menceritakan peperangan antara Dewi Srikandhi dan Dewi Suradewati. Dewi Srikandhi lebih unggul dan mengakhiri pertarungan dengan kemenangan. Adapun Dewi Suradewati harus takluk dalam kekalahannya. Baca selengkapnya…

Tari Bedhaya Luluh

Bedhaya Luluh adalah tari kreasi Bedhaya Yogyakarta. Diciptakan Siti Sutiyah Sasmintadipura tahun 2012 untuk memperingati HUT ke-50 Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM). Tercipta sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa-pengabdian K.R.T Sasmintadipura serta memiliki latar belakang kemanunggalan.


Baca juga: Tarian Jawa Tengah

Demikian informasi mengenai Tarian Yogyakarta. Sebagai catatan, artikel ini dan semua artikel yang berkaitan dengan Tari Klasik Yogyakarta hanyalah merupakan rangkuman dari berbagai sumber, tidak terkecuali dari buku dan internet.

Mohon kebijaksanaannya mencari pendamping rujukan dari sumber lain untuk memperkaya pengetahuan Anda. Jika menurut Anda artikel ini bermanfaat, mohon kiranya berkenan membagikan artikel ini ke media sosial yang Anda miliki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *