20 April 2015 | 09:57 wib | Jurnal | Jalabahasa

EKSPRESI DEIKTIK DALAM CERPEN “MEMBUNUH ORANG GILA” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO

 

Oleh/By:
Endro Nugroho Wasono Aji
Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah
Jalan Elang Raya No. 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, 70769945; Faksimile 024- 76744358, 70799945
Pos-el: info@balaibahasajateng.web.id
Pos-el penulis: wasono_ajie@yahoo.com

Diterima: 17 April 2014, Disetujui: 25 April 2014

 

         ABSTRAK

         Pada prinsipnya tidak ada perbedaan antara wacana sastra dan nonsastra. Sumber daya yang digunakan dalam bahasa lisan adalah sama dengan yang digunakan dalam bahasa tulis. Oleh karena itu, analisis terhadap wacana nonsastra dapat dilakukan pada wacana sastra. "Membunuh Orang Gila" merupakan karya salah satu sastrawan besar di Indonesia, yaitu Sapardi Djoko Damono. Untuk memahami cerpen tersebut dapat dilakukan antara lain dengan pendekatan stilistika pragmatis. Salah satu sarana yang dapat digunakan adalah melalui ekspresi deiktik. Ekspresi deiktik dapat dijabarkan dalam tiga model, yakni deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Penggunaan deiksis persona berupa kata ganti orang aku, kami, ia, dan mereka. Deiksis ruang ke mana dan jalan itu dipakai untuk mengacu pada tempat atau ruang yang dimaksud oleh narator. Adapun deiksis waktu yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu deiksis waktu sekarang dan waktu lampau.

         Kata kunci: ekspresi deiktik, cerpen, deiksis persona, ruang dan waktu

         ABSTRACT

         Principally, there is no difference between literary and non-literary discourse. The resource used in oral language is the same with written. Thus, the approach for non-literary discourse could also be used for literary discourse. "Membunuh Orang Gila" is written by one of the greatest writers in Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Pragmatic stylistics is one of the approaches that could be used to analyze the work. Deictic expression is one mean of it. It could be described in three models, person, place and time deixis. The person deixis are the pronouns aku, kami, ia and mereka. The place deixis are ke mana and jalan itu used to refer the place or the space intended by the narrator. Time deixis are used in two types, present and past tenses.

Keywords: deictic expression, short-story, person, time, and place deixis

 

Jalabahasa: Jurnal Ilmiah Kebahasaan, Volume 10, Nomor 2, November 2014, halaman 99-106

( est/ Tim Laman Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

12 April 2018 | 16:20 wib

PENYULUHAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KEBUMEN Pentingnya Keterampilan Berbahasa Indonesia Guru sebagai Piranti Mengajar

image Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahasa Indonesia selalu digunakan sebagai bahasa pengantar, kecuali beberapa…


06 April 2018 | 13:19 wib

Fried Rice, Fried Cassava, Black Coffee? Prestise atau Sikap Feodal?

image Nasi goreng, singkong goreng, kopi hitam, pasti bukan nama-nama yang aneh di telinga rakyat Indonesia. Nama-nama itu jamak…


19 Maret 2018 | 07:54 wib

Diskusi Sastra dan Peluncuran Antologi Geguritan: Mung Ngabekti Karya Na Dhien Kristy

image Mung Ngabekti yang memiliki arti ‘hanya mengabdi' dipilih Na Dhien Kristy sebagai judul antologi geguritannya. Judul…


15 Maret 2018 | 15:06 wib

Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra Dorong Gerakan Literasi Sekolah

image Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang menyelenggarakan Bengkel…


14 Maret 2018 | 09:43 wib

Guru Harus Menggunakan Bahasa Indonesia di Setiap Forum Resmi

image Pada awal tahun 2018 Balai Bahasa Jawa Tengah kembali melaksanakan kegiatan pemartabatan penggunaan bahasa Indonesia melalui…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id