10 April 2015 | 17:20 wib | Jurnal | Alayasastra

KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL LELAKI BERKERUDUNG CINTA KARYA NONGKA MARAHIM


Oleh/By:

Moh. Muzakka Mussaif
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Jalan Prof. Soedharto, S.H., Tembalang, Semarang 50269
Telepon 024-76480619; Faksimile 024-7463144
Pos-el: muzakkamoh@yahoo.co.id

Diterima: 24 Februari 2014, Disetujui: 11 April 2014

 

         
ABSTRAK

         Lelaki Berkerudung Cinta karya Nongka Marahim adalah novel keagamaan yang menceritakan seorang lelaki saleh yang hidup di sebuah dusun terpencil dan memiliki masa lalu kelam. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengubah kondisi masyarakat desa melalui pemberdayaan ekonomi mereka dan membantu ustaz desa untuk menggairahkan kegiatan keagamaan. Akhirnya, lelaki itu berhasil mengubah kondisi desa dengan dibantu para mahasiswa KKN meskipun menghadapi banyak masalah dan hambatan. Kondisi tersebut memunculkan permasalahan sosial yang pada akhirnya menimbulkan kritik-kritik sosial. Tulisan pendek ini mencoba mengungkap kritik sosial yang muncul dalam novel tersebut menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Adapun beberapa kritik sosial dalam novel itu, yaitu kritik sosial terhadap keberhasilan anak desa, justifi kasi negatif masyarakat, ketidakadilan perlakuan pemerintah terhadap masyarakat desa terpencil, dan kemalasan penduduk desa terpencil untuk berubah.

Kata kunci: keagamaan, kritik, novel, sosial, sosiologi

 

         ABSTRACT

         Lelaki Berkerudung Cinta by Nongka Marahim is a religious novel which tells about a religious man in a remote village with a gloomy background. He tried hard to change the villager condition through economic empowering and help an ustad to improve their religious activities. With the help of apprentice servicing university students, the man was successful in changing the village condition. To gain the success, he has to solve some problems. Those problems come up the social critics. This paper tries to explore those social critics. Based on the sociology of literature theory, it is found some social critics of that novel, such as social critic toward a successful villager, social negative justifi cation, the injustice of big government's ways of treating remote village society, and the laziness of the villager to make a change.

         Keywords: religiosity, critic, novel, social, sociology

         Alayasastra: Jurnal Ilmiah Kesusastraan, Volume 10, Nomor 1, Mei 2014, halaman 17-26

( est/ Tim Laman Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

12 April 2018 | 16:20 wib

PENYULUHAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KEBUMEN Pentingnya Keterampilan Berbahasa Indonesia Guru sebagai Piranti Mengajar

image Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahasa Indonesia selalu digunakan sebagai bahasa pengantar, kecuali beberapa…


06 April 2018 | 13:19 wib

Fried Rice, Fried Cassava, Black Coffee? Prestise atau Sikap Feodal?

image Nasi goreng, singkong goreng, kopi hitam, pasti bukan nama-nama yang aneh di telinga rakyat Indonesia. Nama-nama itu jamak…


19 Maret 2018 | 07:54 wib

Diskusi Sastra dan Peluncuran Antologi Geguritan: Mung Ngabekti Karya Na Dhien Kristy

image Mung Ngabekti yang memiliki arti ‘hanya mengabdi' dipilih Na Dhien Kristy sebagai judul antologi geguritannya. Judul…


15 Maret 2018 | 15:06 wib

Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra Dorong Gerakan Literasi Sekolah

image Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang menyelenggarakan Bengkel…


14 Maret 2018 | 09:43 wib

Guru Harus Menggunakan Bahasa Indonesia di Setiap Forum Resmi

image Pada awal tahun 2018 Balai Bahasa Jawa Tengah kembali melaksanakan kegiatan pemartabatan penggunaan bahasa Indonesia melalui…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id