10 April 2015 | 15:43 wib | Jurnal | Alayasastra

KAKAWIN ABHIMANYUWIWAHA TRANSFORMASI DARI PARWA KE KAKAWIN


Oleh/By

Sunarya
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang
Jalan Sidodadi Timur Nomor 24, dr. Cipto Semarang
Telepon 024-8316377; Faksimile 024-8448217
Pos-el: ikip_pgrismg@yahoo.com
sunaryamhum@yahoo.com

Diterima : 2 September 2014, Disetujui : 2 Oktober 2014

 

         ABSTRAK

         Kakawin Abhimanyuwiwaha (AbhW) oleh Pigeaud dan Zoetmulder digolongkan dalam kelompok kakawin minor. Mereka berpendapat bahwa kakawin AbhW ditulis kurang lebih pada abad ke-16, sedangkan menurut Helen Creese, kakawin AbhW ditulis kurang lebih pada abad ke-19. Namun, pada dasarnya mereka belum pernah meneliti kakawin AbhW secara tuntas. Mengenai teksnya, Zoetmulder mengatakan bahwa kakawin AbhW merupakan adaptasi yang begitu dekat dengan Wirāţaparwa. Kajian yang bersifat deskriptif kualitatif ini berusaha menjelaskan perbandingan teks AbhW dengan Wirāţaparwa dalam rangka transformasi teks. Perbandingan teks dilakukan secara biner, baik dari segi kebahasaan maupun kesastraan. Dari segi kebahasaan, perbandingan mencakupi kata, frasa, dan kalimat, sedangkan segi kesastraaan mencakupi bagian-bagian cerita. Mengenai transformasi kakawin AbhW dari Wirāţaparwa, penulis meyakini bahwa secara tekstual dapat dirunut berdasarkan dua bagian. Bagian pertama adalah transformasi teks sebelum perkawinan Abhimanyu, sedangkan bagian kedua adalah transformasi teks pada saat perkawinan Abhimanyu. Pada bagian pertama dapat ditemukan beberapa butir proses transformasi teks seperti berikut. 1. Penyair menggunakan kata-kata dan ungkapan yang sama. 2. Penyair mengganti kata-kata dengan kata lain yang bersinonim, yaitu antara kata Jawa Kuno dan Sanskerta. 3. Penyair meringkas kalimat dengan cara mengganti sebagian kata-katanya. 4. Penyair menghilangkan bagian-bagian tertentu yang dianggap tidak penting dalam transformasi teks. 5. Penyair memutarbalikkan urutan kalimat pada bagian cerita tertentu dengan mengganti sebagian kata-katanya. 6. Penyair memperhatikan bagian-bagian teks tertentu kemudian mendeskripsikannya secara khusus, baik deskripsi alam maupun deskripsi peristiwa. Sementara pada bagian kedua, yaitu pada perkawinan Abhimanyu, sebenarnya termasuk nomor 6 dalam proses transformasi teks bagian pertama. Namun, transformasi teks pada bagian perkawinan Abhimanyu itu mendapat perhatian yang lebih istimewa karena penyair mendeskripsikannya secara panjang lebar sebanyak 15 pupuh. Berdasarkan penelusuran proses transformasi secara tekstual itu, dapat disimpulkan bahwa teks kakawin AbhW memang merupakan transformasi langsung dan adaptasi yang begitu dekat dari teks Wirāţaparwa. Namun demikian ada bagian khusus yang mendapat perhatian istimewa oleh penyair, yaitu bagian perkawinan Abhimanyu.

         Kata kunci: Abhimanyuwiwaha, transformasi teks, Wirāţaparwa

         ABSTRACT

         According to Pigeaud and Zoetmulder, kakawin (old Java poetry) of Abhimanyuwiwāha (AbhW) was classifi ed into a group of minor kakawin since they argued that the AbhW was written around the 16th century. Meanwhile, according to another opinion of Helen Creese, the AbhW might be written approximately in the 19th century. However, three of them have not examined thoroughly the AbhW text yet. Regarding to the text, Zoetmulder once said that the AbhW was an adaptation that has intimate relationship with the Wirāţaparwa. This descriptive qualitative research tried to describe a comparison of two texts, the AbhW and Wirāţaparwa, in term of text transformation. Binary text comparison was conducted, both in terms of language or literature. The language comparison covered words, phrases, and sentences, while the literary one covered parts of the story. Regarding the transformation of the AbhW from the Wirāţaparwa, the writer insisted that it can be traced textually based on two parts. The fi rst part was the text transformation before the marriage of Abhimanyu, while the second part was the text transformation the marriage of Abhimanyu. In the fi rst part, it could be found several processes of text transformation such: 1. the poet of of the AbhW used similar words and expressions; 2. the poet substituted words with synonyms, ie between Javanese and Sanskrit words; 3. the poet summarizing sentences by replacing some words; 4 the poet omitted certain parts that were considered unimportant in the the text transformation; 5 the poet distorted the order of the sentences in certain parts of the story by substituting words; 6 the poet paid more attention to certain parts of the text, and described those parts in special manner, both natural or event descriptions. In the second part, the marriage of Abhimanyu, that was actually included in the fi rst part's 6th transformation. However, the the text transformation of Abhimanyu's marriage was given special attention by the poet because this section was described at length by 15 stanzas. Based on the tracing of textual transformation processes, it could be concluded that the kakawin text of AbhW was a direct transformation of the Wirāţaparwa text and a close adaptation. However, there was a special section that was obviously given special attention by the poet, part of Abhimanyu's marriage.

         Keywords: Abhimanyuwiwaha, text transformation, Wirāţaparwa

         Alayasastra: Jurnal Ilmiah Kesusastraan, Volume 10, Nomor 2, November 2014, halaman 97-110

( est/ Tim Laman Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

12 April 2018 | 16:20 wib

PENYULUHAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KEBUMEN Pentingnya Keterampilan Berbahasa Indonesia Guru sebagai Piranti Mengajar

image Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahasa Indonesia selalu digunakan sebagai bahasa pengantar, kecuali beberapa…


06 April 2018 | 13:19 wib

Fried Rice, Fried Cassava, Black Coffee? Prestise atau Sikap Feodal?

image Nasi goreng, singkong goreng, kopi hitam, pasti bukan nama-nama yang aneh di telinga rakyat Indonesia. Nama-nama itu jamak…


19 Maret 2018 | 07:54 wib

Diskusi Sastra dan Peluncuran Antologi Geguritan: Mung Ngabekti Karya Na Dhien Kristy

image Mung Ngabekti yang memiliki arti ‘hanya mengabdi' dipilih Na Dhien Kristy sebagai judul antologi geguritannya. Judul…


15 Maret 2018 | 15:06 wib

Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra Dorong Gerakan Literasi Sekolah

image Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang menyelenggarakan Bengkel…


14 Maret 2018 | 09:43 wib

Guru Harus Menggunakan Bahasa Indonesia di Setiap Forum Resmi

image Pada awal tahun 2018 Balai Bahasa Jawa Tengah kembali melaksanakan kegiatan pemartabatan penggunaan bahasa Indonesia melalui…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id