16 Desember 2015 | 10:49 wib

Bahasa dalam Sastra Terjemahan

Oleh Desi Ari Pressanti

 

         Bahasa merupakan salah satu faktor yang menentukan keberadaan dan identitas teks sastra. Bahasa memegang peran penting untuk menyampaikan pesan atau menceritakan kejadian, termasuk bahasa dalam sastra terjemahan. Pada saat membaca sastra terjemahan, pembaca merasa bahwa yang dihadapinya adalah teks asli. Pengalihbahasaan dalam sastra terjemahan menjadi persoalan yang lebih rumit daripada pengalihbahasaan teks-teks ilmiah karena dalam sebuah teks sastra terkandung suatu rasa yang menjadi ciri atau gaya seorang pengarang. Rasa ini biasanya ditandai dengan penggunaan gaya bahasa yang berbeda antara satu pengarang dan pengarang yang lain.

         Bahasa yang khas menjadi tantangan bagi penerjemah sastra sehingga penerjemah dituntut untuk jeli dalam membaca teks asli agar maksud pengarang dapat tersampaikan kepada pembaca. Sebagai contoh, apabila dalam sebuah teks sastra Jawa terdapat kata babal, penerjemah harus dapat menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia sama persis atau paling tidak dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Apabila tidak ada padanan kata yang tepat, dapat diberi catatan kaki. Babal dalam bahasa Jawa berarti buah nangka yang masih sangat muda.

         Bahasa dalam sebuah karya sastra terjemahan memang tidak akan bisa sama persis dengan karya sastra asli. Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah faktor penerjemah yang dipengaruhi oleh penguasaan bahasa dan pengetahuan seorang penerjemah. Dalam hal ini penerjemah sedapat mungkin harus menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran dengan baik, termasuk pengetahuan yang berhubungan dengan teks. Faktor yang lain adalah faktor bahasa dan budaya. Sebuah konsep budaya ada kalanya tidak dapat diwakili oleh satu kata dalam bahasa tertentu. Oleh karena itu, perlu ada catatan kaki dalam sastra terjemahan untuk menjelaskan konsep budaya tersebut. Jadi, teks sastra terjemahan tidak akan sama persis dengan teks sastra dalam bahasa aslinya karena banyak faktor yang memengaruhi penciptaan sebuah karya sastra terjemahan. 

         Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 6, November-Desember 2014

( est/Tim Laman Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

12 April 2018 | 16:20 wib

PENYULUHAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KEBUMEN Pentingnya Keterampilan Berbahasa Indonesia Guru sebagai Piranti Mengajar

image Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahasa Indonesia selalu digunakan sebagai bahasa pengantar, kecuali beberapa…


06 April 2018 | 13:19 wib

Fried Rice, Fried Cassava, Black Coffee? Prestise atau Sikap Feodal?

image Nasi goreng, singkong goreng, kopi hitam, pasti bukan nama-nama yang aneh di telinga rakyat Indonesia. Nama-nama itu jamak…


19 Maret 2018 | 07:54 wib

Diskusi Sastra dan Peluncuran Antologi Geguritan: Mung Ngabekti Karya Na Dhien Kristy

image Mung Ngabekti yang memiliki arti ‘hanya mengabdi' dipilih Na Dhien Kristy sebagai judul antologi geguritannya. Judul…


15 Maret 2018 | 15:06 wib

Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra Dorong Gerakan Literasi Sekolah

image Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang menyelenggarakan Bengkel…


14 Maret 2018 | 09:43 wib

Guru Harus Menggunakan Bahasa Indonesia di Setiap Forum Resmi

image Pada awal tahun 2018 Balai Bahasa Jawa Tengah kembali melaksanakan kegiatan pemartabatan penggunaan bahasa Indonesia melalui…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id