16 Desember 2015 | 10:28 wib

Problematika dalam Penerjemahan Sastra

Oleh Desi Ari Pressanti

 

         Berbagai permasalahan timbul dalam kegiatan penerjemahan sastra, salah satunya adalah mengategorikan sastra terjemahan. Yudiono dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (2007:12) menyatakan bahwa sastra Indonesia berarti sastra (kesusastraan) berbahasa Indonesia yang sejarah pertumbuhannya dimulai pada awal abad ke-20. Oleh karena itu, apabila bahasa ditempatkan sebagai sumber pengategorian sastra, sastra asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia termasuk dalam khazanah sastra Indonesia. Hal ini diperkuat dengan pendapat Salam dalam academia.edu bahwa novel Buiten Het Gareel (1940) karya Suwarsih Djojopuspito tidak pernah diperhitungkan sebagai bagian khazanah sastra Indonesia meskipun ditulis oleh orang Indonesia dan berlatar Jawa. Akan tetapi, setelah diterjemahkan menjadi Manusia Bebas novel tersebut termasuk dalam khazanah sastra Indonesia.

         Setelah ditentukan bahwa sastra terjemahan yang menggunakan bahasa Indonesia termasuk sastra Indonesia, permasalahan selanjutnya adalah sastra terjemahan termasuk dalam sastra marginal atau pusat. Sugihastuti dalam Teori Apresiasi Sastra (2007:34) menyatakan kriteria yang menetapkan sastra pusat adalah karya sastra Indonesia yang diciptakan oleh bangsa Indonesia dan bermediakan bahasa Indonesia maka novel terjemahan termasuk dalam sastra marginal karena sastra terjemahan ditulis pada awalnya oleh orang asing dengan bahasa yang asing pula. Akan tetapi, apabila kriteria sastra marginal adalah sastra yang diresepsi oleh sedikit pembaca maka novel terjemahan bukan sastra marginal karena pembaca novel terjemahan pun banyak.

         Selain pengategorisasian sastra, bahasa merupakan masalah penting dalam penerjemahan karena bahasa merupakan salah satu faktor yang menentukan keberadaan dan identitas teks sastra. Ketika sebuah karya sastra diterjemahkan yang dialihbahasakan tidak hanya pesan di dalamnya, tetapi juga budaya, nilai rasa, dan suasana yang melingkupi teks asli. Oleh karena itu, penerjemah harus menguasai bahasa asli sebagus ia menguasai bahasa sasaran. Walau bagaimanapun hasil terjemahan tentu tidak akan persis dengan aslinya karena dalam penerjemahan terjadi delesi (pengurangan), penambahan, atau substitusi (penggantian). Hal-hal tersebut yang harus dipahami oleh seorang penerjemah sehingga hasil terjemahan tidak bergeser terlalu jauh dari teks asli. 

         Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 5, September-Oktober 2014

( est/Tim Laman Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

12 April 2018 | 16:20 wib

PENYULUHAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KEBUMEN Pentingnya Keterampilan Berbahasa Indonesia Guru sebagai Piranti Mengajar

image Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahasa Indonesia selalu digunakan sebagai bahasa pengantar, kecuali beberapa…


06 April 2018 | 13:19 wib

Fried Rice, Fried Cassava, Black Coffee? Prestise atau Sikap Feodal?

image Nasi goreng, singkong goreng, kopi hitam, pasti bukan nama-nama yang aneh di telinga rakyat Indonesia. Nama-nama itu jamak…


19 Maret 2018 | 07:54 wib

Diskusi Sastra dan Peluncuran Antologi Geguritan: Mung Ngabekti Karya Na Dhien Kristy

image Mung Ngabekti yang memiliki arti ‘hanya mengabdi' dipilih Na Dhien Kristy sebagai judul antologi geguritannya. Judul…


15 Maret 2018 | 15:06 wib

Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra Dorong Gerakan Literasi Sekolah

image Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang menyelenggarakan Bengkel…


14 Maret 2018 | 09:43 wib

Guru Harus Menggunakan Bahasa Indonesia di Setiap Forum Resmi

image Pada awal tahun 2018 Balai Bahasa Jawa Tengah kembali melaksanakan kegiatan pemartabatan penggunaan bahasa Indonesia melalui…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id