31 Juli 2015 | 15:45 wib

Gaya Bahasa Ironisme dan Sarkasme pada Cerita Pendek Indonesia

         Oleh Enita Istriwati

         Cerpen merupakan jenis karya sastra yang cukup menarik bagi pembaca. Para penulis berusaha menarik perhatian pembaca dengan penggunaan gaya bahasa, terutama menggunakan ironi dan sarkasme. Gaya bahasa ironi ialah gaya bahasa yang menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya. Adapun gaya bahasa sarkasme ialah bentuk ironi yang bersifat mencemooh dan menyakitkan hati ditujukan kepada pribadi tertentu. Dick Hartoko dan B. Rahmanto dalam Pemandu di Dunia Sastra menyebutkan bahwa ironi dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu ironi romantik, dramatik atau situasional, dan ironi ala Sokrates.

         Gaya bahasa ironi romantik merupakan gaya yang dengan sengaja menisbikan ungkapan dan ucapannya sendiri. Gaya ironi ini sengaja digunakan penulis secara sadar untuk mengkritik atau memberi komentar terhadap karyanya sendiri. Adapun gaya ironi dramatis atau situasional merupakan gaya bahasa yang tidak menggunakan kata-kata, tetapi tindakan. Para penonton dan tokoh-tokoh lain dianggap lebih mengetahui sumber persoalan dalam cerita pendek tersebut daripada tokoh utama, contohnya drama Oedipus. Dalam drama tersebut sang raja, sebagai tokoh utama, memerintahkan anak buahnya melacak biang keladi penyebar penyakit sampar di kota Thebe. Padahal, penyebab penyakit sampar tersebut ialah sang raja sendiri. Adapun ironi gaya Sokrates yaitu gaya ironi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang tampaknya lugu, tetapi maksudnya untuk menyindir atau mencemooh. Sikap ini dapat ditafsirkan sebagai sikap munafik pada seseorang.

         Selain gaya bahasa ironi, adapula gaya bahasa sarkasme. Gaya bahasa sarkasme bersifat mencemooh dan menyakitkan hati yang ditujukan kepada pribadi tertentu. Kata ini berasal dari kata Yunani sarkasmos. Kata sarkasmos berasal dari kata kerja sarkasein yang berarti ‘merobek-robek daging seperti anjing', ‘menggigit bibir karena marah', atau ‘berbicara dengan kepahitan'.

         Penggunaan bentuk ironi dan sarkasme dalam sastra Indonesia belum banyak dilakukan oleh penulis, kecuali pada sejumlah cerita pendek karya A.A. Navis. Navis cukup ahli menggunakan gaya ironi, sarkasme, dan satire seperti yang ditemukan dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami serta Bianglala dan Hujan. Selain itu, gaya bahasa tersebut juga tampak dalam cerpennya berjudul "Jodoh".

         Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 2, Maret-April 2014

( est/Tim Laman Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

23 Mei 2017 | 11:40 wib

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara dan UKBI Pemilihan Duta Bahasa Jawa Tengah 2017

Kami beri tahukan kepada Saudara bahwa Dewan Juri Pemilihan Duta Bahasa Jawa Tengah 2017 yang terdiri atas: Drs. Suryo Handono,…


12 Mei 2017 | 15:54 wib

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Pemilihan Duta Bahasa Jawa Tengah 2017

Kami beritahukan kepada Saudara bahwa panitia Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah telah menyeleksi kelengkapan berkas…


26 April 2017 | 19:17 wib

Pengumuman Pemenang Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Pengayaan Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar se-Jawa Tengah 2017

Balai Bahasa Jawa Tengah, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengemban tugas…


10 Februari 2017 | 11:39 wib

Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Pengayaan Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar Se-Jawa Tengah 2017

image Balai Bahasa Jawa Tengah menyelenggarakan Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Pengayaan Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah…


16 November 2016 | 08:26 wib

PEMANFAATAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK, BENAR, DAN SANTUN

image Bahasa, sebagai produk budaya, memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter. Bahasa Indonesia yang baik…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id