27 Februari 2015 | 14:39 wib

Perkembangan Komik di Indonesia

         Oleh Kustri Sumiyardana

         Komik adalah cerita bergambar atau cergam yang digolongkan ke dalam sastra populer, yaitu karya sastra yang berfungsi untuk menghibur. Bibit-bibit komik di Indonesia muncul sejak zaman dahulu melalui media, seperti relief dan wayang beber. Akan tetapi, kemunculan komik di Indonesia mendapat pengaruh dari Barat dan Tiongkok. Komik pada awalnya muncul tidak dalam bentuk buku, tetapi dimuat di media massa. Di Indonesia komik muncul dalam media massa sebelum Perang Dunia II. Waktu itu terdapat surat kabar bernama Sin Po yang diterbitkan oleh keturunan Tionghoa dan berbahasa Melayu. Pada tahun 1930 koran Sin Po sering memuat komik humor, yaitu komik strip yang menceritakan berbagai kejadian lucu. Komik strip itu dibuat oleh seorang keturunan Tionghoa bernama asli Kho Wang Gie yang menggunakan nama pena Sopoiku. Pada awal 1931 Kho Wang Gie menciptakan tokoh jenaka bernama Put On. Selanjutnya, penerbitan komik berupa buku marak sesudah kemerdekaan.

         Komik Indonesia dapat dikelompokkan dalam bermacam-macam genre. Komik roman remaja, misalnya Rhapsody dalam Sendu karya Jan Mintaraga, Air Mata di Bulan Desember karya Floren, dan Buku Harian Seorang Penyanyi karya Zaldy. Komik fiksi ilmiah, misalnya Godam karya Wid N.S. dan Gundala Putra Petir karya Hasmi. Komik persilatan, misalnya Jaka Sembung karya Djair, Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes Th., dan Panji Tengkorak karya Hans Jaladara. Komik wayang, misalnya serial Mahabharata dan Ramayana karya Ardisoma dan R.A. Kosasih. Komik humor, misalnya Keluarga Semar karya Soponyono.

         Perkembangan komik mencapai puncaknya pada tahun 1970-an dan mengalami penurunan pada tahun 1990-an. Ada beberapa hal yang menyebabkan kemunduran komik-komik itu. Pertama, adanya serbuan komik dari luar yang lebih diminati, misalnya komik dari Jepang yang disebut manga. Kedua, maraknya media audiovisual dengan munculnya stasiun-stasiun televisi swasta. Sampai saat ini di Indonesia budaya lisan lebih kuat daripada budaya tulis. Orang lebih senang mengikuti cerita dengan melihat daripada membaca. Itulah yang membuat minat baca komik menurun. Akibatnya, produksi komik terus menurun dan komikus Indonesia semakin jarang dijumpai.

         Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 1, Januari-Februari 2014

( est/Tim Laman Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

12 April 2018 | 16:20 wib

PENYULUHAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KEBUMEN Pentingnya Keterampilan Berbahasa Indonesia Guru sebagai Piranti Mengajar

image Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahasa Indonesia selalu digunakan sebagai bahasa pengantar, kecuali beberapa…


06 April 2018 | 13:19 wib

Fried Rice, Fried Cassava, Black Coffee? Prestise atau Sikap Feodal?

image Nasi goreng, singkong goreng, kopi hitam, pasti bukan nama-nama yang aneh di telinga rakyat Indonesia. Nama-nama itu jamak…


19 Maret 2018 | 07:54 wib

Diskusi Sastra dan Peluncuran Antologi Geguritan: Mung Ngabekti Karya Na Dhien Kristy

image Mung Ngabekti yang memiliki arti ‘hanya mengabdi' dipilih Na Dhien Kristy sebagai judul antologi geguritannya. Judul…


15 Maret 2018 | 15:06 wib

Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra Dorong Gerakan Literasi Sekolah

image Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang menyelenggarakan Bengkel…


14 Maret 2018 | 09:43 wib

Guru Harus Menggunakan Bahasa Indonesia di Setiap Forum Resmi

image Pada awal tahun 2018 Balai Bahasa Jawa Tengah kembali melaksanakan kegiatan pemartabatan penggunaan bahasa Indonesia melalui…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id