02 Maret 2016 | 13:04 wib

Transkripsi, Transformasi, dan Transliterasi Serupa tetapi Tak Sama

Emma Maemunah, S.Pd., M.Hum.

 

         Kita sering mendengar atau membaca kata transkripsi, transformasi, dan transliterasi. Ketiga kata tersebut merupakan serapan dari kata dasar transcription dan kata berimbuhan transformation dan transliteration.

         Berdasarkan Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa tahun 2007, prefiks trans- yang berarti ‘ke/di seberang', ‘lewat', ‘mengalihkan' tetap menjadi trans-. Sementara itu, kata yang mengikutinya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia, yaitu transformation menjadi transformasi dan transliteration menjadi transliterasi.

         Meskipun ketiga kata tersebut memiliki arti yang berbeda, kita masih dapat melihat persamaannya. Persamaan tersebut berhubungan dengan bidang linguistik, seperti struktur gramatikal, kata, aksara, dan bunyi.

         Transkripsi [tran.skrip.si] adalah (1) pengalihan tuturan yang berujud bunyi ke dalam bentuk tulisan; (2) penulisan kata, kalimat, atau teks dengan menggunakan lambang-lambang bunyi. Misalnya:

         Transkripsi sastra lisan, seperti cerita rakyat, yang semula berupa sastra lisan ditranskripsi untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini hanya diketahui oleh para orang tua. Generasi muda sebagai pewaris budaya dapat mempelajari nilai-nilai kearifan lokal tersebut dengan membaca hasil transkripsi cerita-cerita rakyat tersebut.

         Transformasi [trans.for.ma.si] dalam bidang linguistik adalah perubahan struktur gramatikal menjadi struktur gramatikal lain dengan menambah, mengurangi, atau menata kembali unsur-unsurnya. Misalnya:

         Teks cerita Jaka Tingkir ditransformasi menjadi sebuah sinetron agar dapat diketahui dan disaksikan oleh masyarakat. Nilai-nilai sejarah dari cerita Jaka Tingkir tetap ada dan tidak dihilangkan. Akan tetapi, untuk menonjolkan sisi kepahlawanan dari Jaka Tingkir perlu ditambahkan tokoh lain yang tidak ada dalam cerita aslinya, yaitu dengan menghadirkan monster-monster untuk dapat menarik dan menghibur penonton.

         Transliterasi [trans.li.te.ra.si] adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad bahasa lain, seperti dari huruf Arab ke huruf Latin agar dapat dibaca dan dipahami oleh siapapun. Misalnya:

         Transliterasi huruf Arab [ب] atau ba' dilambangkan dengan huruf Latin [b] dibaca [be], [ت] atau ta' dilambangkan dengan huruf Latin [t] dibaca [te], [ر] atau ra' dilambangkan dengan huruf Latin [r] dibaca [er].

 

Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 1, Januari-Juni 2015

 

( rum/Tim Laman Balai Bahasa Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

24 Agustus 2018 | 09:15 wib

Bahasa untuk yang Nonbahasa

image   Penggunaan bahasa yang baik dan benar seharusnya tidak hanya dilakukan di sekolah atau lingkungan akademis lainnya.…


20 Agustus 2018 | 11:02 wib

Guru Harus Meningkatkan Kemahiran Berbahasa Indonesia

  Bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi yang sangat penting bagi guru karena bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai…


20 Agustus 2018 | 10:48 wib

Guru Nonbahasa Perlu Melek Bahasa dan Sastra

image   Bahasa mempunyai peran penting dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional anak didik. Dalam hal ini bahasa…


16 Agustus 2018 | 16:16 wib

Devian dan Rosaliana Terpilih Menjadi Duta Bahasa Jawa Tengah 2018

image Devian Satria Kusuma Pradiva (alumni Universitas Sebelas Maret) dan Rosaliana Intan Pitaloka (Universitas Sebelas Maret)…


30 Juli 2018 | 10:54 wib

Mutiara, Cahaya, dan Pahlawan Tema ibu Mendominasi Puisi Bengkel Sastra di Kabupaten Jepara

image Kegiatan Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra (Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Jepara) diadakan pada 16-18 April…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id