02 Maret 2016 | 11:07 wib

Menyimak Pemakaian Kata Tenggat, Tenggat Waktu, dan Deadline

 Drs. Pardi., M.Hum.

 

Pembaca yang mulia, akhir-akhir ini kata tenggat semakin sering muncul di media massa. Pada umumnya, kata tenggat dirangkaikan dengan kata waktu sehingga menjadi tenggat waktu. Kata tenggat memang belum lama "dikenal" oleh khalayak luas. Hal itu berbeda dengan kehadiran kata batas dan atau batas waktu. Bahkan, kehadiran kata tenggat atau tenggat waktu lebih belakangan dibandingkan dengan kemunculan dan pemakaian kata dead line. Maka dari itu, kehadiran kata tenggat atau tenggat waktu kalah populer dibandingkan dengan kata dead line atau batas waktu.

                   Dalam bahasa Indonesia, kata tenggat memang tergolong sebagai kosakata baru. Akibatnya, masih banyak orang yang belum mengerti makna kata tenggat atau tenggat waktu dengan semestinya. Oleh sebab itu, penulis merasa perlu memberikan apresiasi atas kata tenggat yang sering digunakan bersama-sama dengan kata waktu sehingga menjadi tenggat waktu. Kata tenggat memiliki pengertian ‘batas waktu' atau ‘hingga'. Jadi, kata tenggat itu bersinonim dengan batas waktu. Dengan demikian, bagaimana pendapat pembaca jika menyaksikan pemakaian kata tenggat waktu? Apakah yang benar itu pemakaian tenggat atau tenggat waktu? Sebelum menentukan pendapat, baiklah kita simak terlebih dahulu pemakaian kata tenggat atau tenggat waktu dalam beberapa contoh kalimat berikut ini.

         (1)   Pendaftaran karyawan itu dilakukan dengan tenggat waktu 20-25 Maret 2010.

         (2)   Tenggat waktu penyaluran logistik Pemilu 2009 adalah tanggal 26 Maret 2009.

         (3)   Tenggat  penyaluran logistik Pemilu 2009 di Kalimantan Timur adalah tanggal 26 Maret 2009.

         (4)   Tenggat waktu pembayaran rekening telepon adalah tanggal 20 tiap bulannya.

         (5)   Kita harus bekerja keras karena tenggat waktu penyelesaian pekerjaan ini selalu mengejar.

                     Pembaca yang baik, di atas telah dijelaskan bahwa kata tenggat berarti ‘batas waktu', bukan hanya berarti ‘batas' saja. Oleh sebab itu, pemakaian kata tenggat waktu dapat dipandang sebagai pemakaian bahasa yang berlebihan. Jika kata batas waktu  telah terwakili oleh kata tenggat, mengapa para penutur atau penulis harus memakai kata tenggat waktu? Bukankah dengan kata tenggat saja sudah cukup? Akan tetapi, kemungkinan sebagian pembaca bertanya apakah pemakaian tenggat waktu itu salah? Penggunaan kata tenggat waktu tidak dapat dinyatakan salah, tetapi lebih cenderung dikatakan berlebihan. Kelaziman pemakaian kata yang berlebihan seperti itu juga sering terjadi pada pemakaian demi untuk, agar supaya, dan sejenisnya. Bukankah pembaca pernah mendengar atau membaca kalimat seperti berikut ini? Semestinya, penulis atau penutur cukup memakai kata demi atau untuk dan agar atau supaya, bukan demi untuk atau agar supaya.

         (6) Kita harus melakukan jam malam demi untuk menjaga keamanan lingkungan menjelang pemilu.

         (7) Penyusunan rencana anggaran tahun depan itu segera diselesaikan

              agar supaya tidak terlambat diusulkan ke pemerintah pusat.

                     Sesuai dengan penjelasan di atas, pemakaian kata tenggat waktu pada contoh kalimat tersebut tidak salah. Akan tetapi, akan lebih tepat jika pemakaian kata tenggat waktu pada kalimat (1), (2), (4), dan (5) di atas diganti dengan kata tenggat saja. Bukankah kata tenggat telah mewakili makna batas waktu.

                     Bagaimanakah pemakaian kata deadline? Kata deadline merupakan kosakata kata bahasa asing. Dalam berbahasa Indonesia, berbagai pihak cenderung memakai bentuk istilah asing itu secara utuh. Sebagian besar pemakai bahasa Indonesia menuliskan kata deadline seperti kaidah penulisan kata dan istilah asing dalam teks berbahasa Indonesia. Kata deadline bermakna ‘batas waktu'. Dengan demikian, pemakai bahasa Indonesia dapat memilih apakah memakai kata tenggat, batas waktu, ataukah deadline? Akan tetapi, jika pembaca memilih untuk memakai kata deadline, kata itu harus diperlakukan sebagai kosakata bahasa asing. Dalam kaidah bahasa Indonesia, kosakata asing haruslah dituliskan dengan huruf miring dalam teks berbahasa Indonesia. Untuk itu, nantinya penulis dapat membuat kalimat (6), (6a),  atau (6b) seperti berikut ini.

         (8)   Deadline pengiriman logistik Pemilu 2009 adalah 10 hari sebelum tanggal 5 April 2009.

         (9) Tenggat pengiriman logistik Pemilu 2009 adalah 10 hari sebelum tanggal 5 April 2009.

         (10) Batas waktu pengiriman logistik Pemilu 2009 adalah 10 hari sebelum  tanggal 5 April 2009.

         Marilah, kita cermat memakai kata tenggat dan tenggat waktu!

         Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 1, Januari-Juni 2015

 

( rum/Tim Laman Balai Bahasa Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

24 Agustus 2018 | 09:15 wib

Bahasa untuk yang Nonbahasa

image   Penggunaan bahasa yang baik dan benar seharusnya tidak hanya dilakukan di sekolah atau lingkungan akademis lainnya.…


20 Agustus 2018 | 11:02 wib

Guru Harus Meningkatkan Kemahiran Berbahasa Indonesia

  Bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi yang sangat penting bagi guru karena bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai…


20 Agustus 2018 | 10:48 wib

Guru Nonbahasa Perlu Melek Bahasa dan Sastra

image   Bahasa mempunyai peran penting dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional anak didik. Dalam hal ini bahasa…


16 Agustus 2018 | 16:16 wib

Devian dan Rosaliana Terpilih Menjadi Duta Bahasa Jawa Tengah 2018

image Devian Satria Kusuma Pradiva (alumni Universitas Sebelas Maret) dan Rosaliana Intan Pitaloka (Universitas Sebelas Maret)…


30 Juli 2018 | 10:54 wib

Mutiara, Cahaya, dan Pahlawan Tema ibu Mendominasi Puisi Bengkel Sastra di Kabupaten Jepara

image Kegiatan Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra (Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Jepara) diadakan pada 16-18 April…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id