02 Maret 2016 | 10:11 wib

Selidik dan Sidik

Desi Ari Pressanti, S.S., M.Hum.

 

               Selidik dan sidik merupakan kata yang kerap muncul dalam media massa, terutama dalam bidang hukum. Kedua kata ini memiliki kemiripan dalam hal ejaan sehingga banyak pemakai bahasa yang tidak menyadari bahwa kedua kata tersebut sebenarnya berbeda, meskipun perbedaan tersebut juga tidak terlalu tajam.

              Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa selidik berjenis kata adjektiva yang berfungsi menjelaskan nomina atau pronomina. Arti kata selidik adalah ‘dengan teliti' atau ‘dengan cermat'. Pengembangan dari selidik adalah menyelidik yang memiliki arti: (1) memeriksa dengan teliti atau mengusut dengan cermat, contohnya: tim petugas dikirim untuk menyelidik penyebab kebakaran gedung bertingkat; (2) menelaah (mempelajari) dengan sungguh-sungguh, contohnya: bertahun-tahun lamanya peneliti itu menyelidik bahasa dan adat istiadat suku Badui; (3) memata-matai dan mengintai, contohnya: tim Densus 88 telah menyelidik rumah tersangka teroris sejak sebulan yang lalu; (4) menggeledah (untuk mengetahui sesuatu), contohnya: petugas bea cukai menyelidik peti kemas yang tiba di pelabuhan.

                Adapun menyelidiki merupakan pengembangan dari menyelidik, sehingga kedua kata ini memiliki arti sama. Pengembangan yang lain dari ‘sidik' adalah ‘penyelidik', artinya (1) orang yang menyelidiki sesuatu atau pengusut; (2) mata-mata, pengintai, atau pelacak. Adapun ‘penyelidikan' berarti (1) usaha memperoleh informasi melalui pengumpulan data; (2) proses, cara, perbuatan menyelidiki, pengusutan, dan pelacakan.

                Sidik bermakna periksa, sedangkan pengembangan dari sidik adalah memeriksa, menyelidik, dan mengamat-amati. Bentuk kata benda dari sidik adalah penyidik yang memiliki arti sangat khusus, yaitu pejabat polisi Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi kewenangan khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. Adapun ‘penyidikan' adalah serangkaian tindakan penyidik yang diatur oleh undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti pelaku tindak pidana; proses, cara, perbuatan menyidik.

               Perbedaan penyelidik dan penyidik semakin jelas ketika kedua kata tersebut digunakan dalam ranah hukum, seperti dalam tabel terlampir.

         Perbedaan

         Penyelidik

         Penyidik

Petugas

 

          

         setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia (Pasal 4 KUHAP)

         1.    pejabat polisi negara Republik Indonesia.

         2.    pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.

         (Pasal 6 KUHAP)

 

Kewenangan

         1.     menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;

         2.     mencari keterangan dan barang bukti;

         3.     menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;

         4.     mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

          

         Selain itu, atas perintah penyidik, penyelidik dapat melakukan tindakan berupa:

         1.     penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penahanan;

         2.     pemeriksaan dan penyitaan surat;

         3.     mengambil sidik jari dan memotret seorang;

         4.     membawa dan menghadapkan seorang pada penyidik.

          

         (Pasal 5 KUHAP)

          

         1.    menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;

         2.    melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;

         3.    menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;

         4.    melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;

         5.    melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;

         6.    mengambil sidik jari dan memotret seorang;

         7.    memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

         8.    mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

         9.    mengadakan penghentian penyidikan;

         10.mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

          

         (Pasal 7 ayat [1] KUHAP)

          

         Lembar Informasi Kebahasaan dan Kesastraan Edisi 1, Januari-Juni 2015

( rum/Tim Laman Balai Bahasa Jawa Tengah )

Kirim Komentar

Terbaru

12 April 2018 | 16:20 wib

PENYULUHAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KEBUMEN Pentingnya Keterampilan Berbahasa Indonesia Guru sebagai Piranti Mengajar

image Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, bahasa Indonesia selalu digunakan sebagai bahasa pengantar, kecuali beberapa…


06 April 2018 | 13:19 wib

Fried Rice, Fried Cassava, Black Coffee? Prestise atau Sikap Feodal?

image Nasi goreng, singkong goreng, kopi hitam, pasti bukan nama-nama yang aneh di telinga rakyat Indonesia. Nama-nama itu jamak…


19 Maret 2018 | 07:54 wib

Diskusi Sastra dan Peluncuran Antologi Geguritan: Mung Ngabekti Karya Na Dhien Kristy

image Mung Ngabekti yang memiliki arti ‘hanya mengabdi' dipilih Na Dhien Kristy sebagai judul antologi geguritannya. Judul…


15 Maret 2018 | 15:06 wib

Bengkel Komunitas Bahasa dan Sastra Dorong Gerakan Literasi Sekolah

image Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang menyelenggarakan Bengkel…


14 Maret 2018 | 09:43 wib

Guru Harus Menggunakan Bahasa Indonesia di Setiap Forum Resmi

image Pada awal tahun 2018 Balai Bahasa Jawa Tengah kembali melaksanakan kegiatan pemartabatan penggunaan bahasa Indonesia melalui…

© 2012 Balai Bahasa Jawa Tengah
Jalan Elang Raya Nomor 1, Mangunharjo, Tembalang, Semarang
Telepon 024-76744357, Fax. 024-76744358, Email: info@balaibahasajateng.web.id